Quantcast

Startup News,Tech News

Tergulung Persaingan, Ini Daftar Bisnis E­Commerce yang Gulung Tikar di Indonesia

1 year ago by | 238 Posts Published

Ecommerce Gulung Tikar

Indonesia masih menjadi pasar yang sangat potensial bagi industri e­commerce. Dengan jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 250 juta, penetrasi internet Indonesia tercatat baru mencapai sepertiga jumlah penduduk.

Ini merupakan peluang dan potensi luas yang masih sangat terbuka lebar. Tetapi tampaknya hal itu tak menjamin kesuksesan usaha e­commerce di Indonesia. Mundurnya e­commerce Shopious seperti yang diberitakan sebelumnya, menjadi bukti beratnya iklim persaingan e­commerce di Indonesia. Berikut ini adalah beberapa e­commerce yang tak berhasil mendulang sukses di Indonesia:

1. Rakuten

Ecommerce Gulung Tikar

Sumber Gambar: thenextweb.com

Nama besar Rakuten boleh berjaya di Jepang, namun agaknya tak berhasil menarik hati konsumen Indonesia. Beroperasi di Indonesia sejak 2011, selama dua tahun awal Rakuten bekerja sama dengan MNC Group. Kongsi itu lalu pecah, dengan alasan “perbedaan filosofi”. Meski begitu, Rakuten justru optimis dengan 100 persen kepemilikan saham, mereka akan bisa lebih bertumbuh cepat. Namun setelah tiga tahun, pada 2015 Rakuten akhirnya hengkang dari Indonesia dan memusatkan layanannya di Rakuten Global Market, berpusat di Ichiba, Jepang.

2. Lamido

Ecommerce Gulung Tikar

Sumber Gambar: ventureburn.com

Nama besar Rocket Internet yang mendukung berdirinya Lamido untuk menantang Tokopedia dan Bukalapak menggaet pasar menengah ke bawah pun tak berhasil. Lamido memfokuskan diri pada produk elektronik, busana, dan aksesori. Lamido akhirnya digabung dengan sesama anak usaha Rocket Internet di bawah naungan nama e­commerce Lazada.

3. Valadoo

Ecommerce Gulung Tikar

Sumber Gambar: tnooz.com

Valadoo yang mengkhususkan bisnis e­commercenya di bidang travel dan gaya hidup dengan dukungan dana dari Wego, juga tak berhasil menaklukkan pasar Indonesia. Model bisnis Valadoo yang disebut tak jelas, pada akhirnya Valadoo merger dengan Burufly, aplikasi media sosial dengan keunggulan foto wisata. Tetapi, integrasi fitur yang direncanakan tak berhasil. Valadoo akhirnya ditutup 30 April 2016.

4. Paraplou 

Ecommerce Gulung Tikar

Sumber Gambar: techinasia.com

Didirikan pada 2012 dengan nama Vela Asia, Paraplou berfokus pada busana kelas premium. Pada awal 2015 Paraplou menerima dana 1,5 juta dolar AS dari Majuven, perusahaan investasi asal Singapura. Ironisnya, tak sampai setahun Paraplou gulung tikar dengan alasan kondisi permodalan, terutama di tengah ekonomi global yang tengah bergolak.

5. Shopious 

Ecommerce Gulung Tikar

Sumber Gambar: adamsains.us

Shopious adalah platform e­commerce yang mengintegrasikan pedagang fashion online di Instagram dengan jaminan akan mendapat audience yang lebih luas. Namun, kendala operasional Shopious dan himpitan persaingan bonus yang digelontorkan oleh pemain­pemain besar menjadikan Shopious memutuskan menghentikan layanan. Dana Shopious yang sedianya masih untuk satu setengah tahun operasional, dikembalikan kepada angel investor. Menurut founder Shopious, iklim e­commerce Indonesia tidak berkompetisi pada kualitas produk, namun pada seberapa berani pemodal “membakar uang” dengan berlomba memberi bonus, diskon, serta fasilitas yang memanjakan konsumen seperti pembebasan ongkos kirim.


SPONSORED CONTENT, POWERED BY GOOGLE

Comments

, , , , ,


ADVERTISEMENTS :