Quantcast
Shopious Gulung Tikar

Salah satu startup e­commerce di Indonesia, Shopious mengakhiri layanan yang dimulainya sejak 2013. Startup ini pada awalnya mengambil model bisnis marketplace fashion C2C, namun pada awal 2014 memutuskan pivot dengan mengagregasikan toko­toko fashion di Instagram.

Para pedagang online Instagram cukup membayar biaya pendaftaran untuk bisa terintegrasi dengan Shopious dan mendapatkan audience yang lebih luas dari non­followers mereka. Namun ternyata, besarnya pengguna sosial media, termasuk maraknya online shop perseorangan di sosial media, tak menjamin kesuksesan model bisnis ini.

Founder Shopious, Aditya Herlambang, mengatakan kepada Tech in Asia bahwa keputusan tutupnya Shopious bukan karena kehabisan dana atau karena mereka kesulitan mendapatkan investor. Pasalnya, dana operasional Shopious sendiri masih cukup untuk 12­18 bulan ke depan. Dana yang tersisa itu pun sudah dikembalikan kepada angel investor Shopious.

Shopious Gulung Tikar

Sumber Gambar: vemale.com

Beberapa masalah yang melatar­belakangi ditutupnya Shopious terungkap dari blog yang ditulis Aditya di Medium, antara lain biaya untuk menarik calon pembeli ke platform Shopious yang terus meningkat, dan keberadaan Dropshipper yang menyebabkan banyak konsumen mendapat pengalaman belanja yang buruk. Diakui, selama ini biaya marketing yang dipakai untuk SEO, digital ads dan lain­lain makin meningkat, sehingga hanya startup dengan dana besar yang mampu memakai layanan­layanan tersebut. Sementara itu, ternyata banyak pedagang di Instagram yang tak memiliki stok barang mandiri dan hanya mengambil stok dari distributor apabila ada pembeli. Hal ini, menyebabkan respon yang lama dan memicu hilangnya minat konsumen. Belum lagi, disebabkan pembeli dan penjual dapat berinteraksi secara langsung, pihak Shopious tidak bisa melacak dan memperbaiki bila terjadi masalah.

Shopious Gulung Tikar

Sumber Gambar: tutorial89.com

Selain kedua masalah operasional tersebut, Shopious juga masih harus berhadapan dengan e­commerce yang memiliki pendanaan besar. E­commerce kompetitor bahkan berani memberi subsidi dari diskon barang, ongkos kirim dan beragam promosi lainnya. Hal ini, menurut Aditya, cukup mengecewakan karena persaingan hanya akan dimenangkan oleh mereka yang memiliki dana paling besar di rekeningnya. Menurut Aditya, pasar e­commerce di Indonesia baru benar­benar matang sekitar 10­15 tahun lagi, pasar saat ini dinilainya masih belum siap. Bila
kondisi seperti ini terus berlangsung, maka angka investasi bakal semakin tak masuk akal dan sangat mungkin terjadi devaluasi startup di Indonesia


SPONSORED CONTENT, POWERED BY GOOGLE

Comments

, , , , , , , ,


ADVERTISEMENTS :